Bukan Sekedar Tinta
manusia diciptakan dalam keadaan ‘fitri’, bagai selembar kertas putih yang tak tertulisi oleh segores tinta, hingga tinta putih pun. yang mewarnainya adalah lingkungan dimana kakinya merangkak, melampaui jalan-jalan licin, kadang penuh penghadang. begitu indahnya kehidupan sang makhluk saat itu. sebelumnya, tuhan telah berkata: ‘alastu birabbikum’? si bayi dalam kandungan berkata: ‘balaa, syahidna’? nafas tuhan telah tertiup. jadilah dia seorang yang siap menghambakan diri kepada rabb-nya. namun kawan, si bayi itu dibawa ke sebuah tempat oleh orang-orang jahad yang tak pernah ingin dijangkaunya. hinggalah sampai pada sebuah padang gersang yang juga menggersangkan hatinya. si bayi itu menjerit, ingin kembali ke rahim yang telah mengeluarkannya. namun ia bingung, di rahim manakah gerangan dia keluar?
kawan, bukanlah sebuah main-main segores tinta yang akan kita goreskan pada selembar kertas putih itu. tinta itulah yang akan membawa si bayi ke atas awan yang menawan, ke tinggi langit yang melilit, ke tebing batu yang beradu, ke tepi jurang yang menggarang, ke arah cuaca yang tak kenal cinta.
kawan, cobalah kita tanya: apa yang hendak disampaikan oleh tuhan melalui perumpamaan in?